Selamat Datang di Website Resmi Desa Bungbungan , Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Media komunikasi dan transparansi Pemerintah Desa Bungbungan untuk seluruh masyarakat. KANTOR DESA BUNGBUNGAN BUKA JAM : 08.00 AM SAMPAI TUTUP JAM 14.00PM.... KANTOR TUTUP HARI SABTU DAN MINGGU

Artikel

Hari Puputan Klungkung yg ke 114 dan HUT Kota Semarapura yg ke 30

28 April 2022 08:02:03  Administrator  108 Kali Dibaca  Berita Desa

SELASA, 28 April 1908, Kerajaan Klungkung, Bali menjadi lautan darah. Ratusan orang berpakaian serbaputih tewas dalam perang yang dikenal dengan nama Puputan Klungkung. Tak hanya dari kalangan rakyat biasa, sang Raja Dewa Agung Jambe II (1903-1908) nan gagah berani pun gugur penuh luka.
Sebelum perang berkecamuk, api perlawanan atas kolonial Belanda telah lebih dulu terjadi di Desa Gelgel. Pemantiknya berawal dari patroli keamanan kolonial di wilayah Kerajaan Klungkung sejak 13-16 April 1908. Para pembesar kerajaan dan rakyat tak terima. Sebab, hal tersebut dianggap melanggar kedaulatan kerajaan. Tak ayal penyerangan terhadap patroli Belanda terjadi di Desa Gelgel.
Pihak kolonial kemudian murka, dan menuduh Kerajaan Klungkung telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Raja Dewa Agung Jambe II dan rakyat diminta untuk menyerah sampai 22 April 1908. Ancaman tersebut ternyata tak mengendurkan nyali raja dan rakyat. Justru semangat menjaga kedaulatan kerajaan semakin membesar.
Arkian, sehari sebelum ultimatum, Senin, 20 April 1908, pemerintah kolonial di Batavia mengirimkan pasukan tambahan untuk menyerang Kerajaan Klungkung.

Bermodal tombak, laskar-laskar Klungkung nan gagah berani menghadapi serangan pasukan Belanda yang berbekal beberapa meriam kaliber 13 dan 15 cm. "Tapi serangan laskar Klungkung dapat dipatahkan," kata Made Sutaba dkk. Selasa, 21 April 1908, Istana Semarapura, Gelgel, dan Satria dibombardir serdadu kolonial selama 6 hari berturut-turut.

Celakanya, pada 27 April 1908, pasukan tambahan kolonial dari Batavia tiba di Desa Kusamba dan Jumpai. Kobaran perang semakin membesar. Perlawanan sengit diberikan rakyat kedua desa itu, meski persenjataan tak berimbang. Serdadu kolonial pun semakin merangsek menuju Klungkung. Istana Semarapura mulai terkepung.

Dari gempuran tersebut, Cokorda Gelgel, Dewa Agung Gde Semarabawa, Dewa Agung Muter, dan sang putra mahkota kerajaan gugur. Mengetahui kabar itu, tak membuat nyali Raja Dewa Agung Jambe II menciut. Sebaliknya, ia malah ingin segera menunaikan dharmaning ksatria, kewajiban tertinggi seorang kesatria sejati, yaitu tewas di medan perang.
Bersama 3.000 laskar Klungkung, Raja Dewa Agung Jambe maju menyerang kolonial. Tak lama kemudian, mereka pun gugur dalam berondongan peluru serdadu. Selasa, 28 April 1908, sore, Kerajaan Klungkung jatuh ke tangan kolonial Belanda.

Meskipun secara fisik kalah, namun Raja Dewa Agung Jambe dan rakyat menunjukkan sikap masyarakat Bali, yang menempatkan harga diri dan kehormatan di atas segala-galanya. 

Diegahayu Puputan Klungkung yg ke 114
dan HUT Kota Semarapura yg ke 30 Tahun.

Salam Gema santi

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Pengaduan Online

Peta Desa Bungbungan

Statistik Penduduk

Sinergi Program

Prodeskel Pajak Online

Aparatur Desa

Info Media Sosial

Agenda

Belum ada agenda

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:152
    Kemarin:107
    Total Pengunjung:147.714
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:192.168.10.4
    Browser:Tidak ditemukan

Komentar Terbaru